Penulis : Fahd Djibran, Bondan Prakoso &
Fade2black
Penyunting : Enda Astuti
Design
Director : Futih Aljihadi
Konsep
dan Pengembangan Desain : Rizqa Abidin
(What If Artwork)
Eksekusi
Foto Sampul & Lay Out : Futih
Aljihadi
Eksekusi
Desain Sampul : Zaki Fitria & M. Faizal Fikri
Penerbit : Kurniaesa Publishing
Cetakan : Pertama, Juni 2011
Halaman : 231 hlm
ISBN : 978-602-99349-1-5
Awal
membaca buku ini karena penasaran, kolaborasi lirik lagu Bondan Prakoso &
Fade2black menjadi alur cerita oleh Fahd Djibran. Alhasil setiap cerita (yang
terdapat lirik lagu tsb) mempunyai makna-makna tersendiri.
Saya
mencoba mengutip kalimat-kalimat dalam setiap chapter, semoga bermanfaat bagi
saya maupun pembaca. Berikut kutipan-kutipannya :
- Kau puisi : “Aku hanya laki-laki biasa, yang menemukan sebagian dirinya dalam dirimu. Bagiku, kaulah yang akan menyempurnakan hidupku” [19]
- Sang juara : “hidup selalu indah pada waktunya. dan tuhan tak pernah tertidur untuk melupakan mereka yang percaya pada takdirnya” [31]
- Not with me : “pejamkan matamu, lalu sebutkan sepuluh nama yang paling kau cintai dalam hidupmu” [42]
- Bumi ke langit : "setiap kali kita bersalah dan berdosa, sebenarnya kita sedang belajar untuk menjadi lebih baik" [57]
- Cahya cinta sejati : "Untuk Mereka yang masih berdiri dengan 'cahya cinta sejati' mereka, keluarga tercinta, bersyukurlah, berbahagialah. diluar sana, barangkali ada seseorang yang begitu iri pada hidup yang saat ini sedang kau caci-maki... " [82]
- Waktu : “aku tak akan berusaha menjadikan busur bagi dirimu sebab kau bukan anak
- panah yang mesti kubidikkan ke mana-mana. kaulah lesat bagi gerakmu sendiri, tuan bagi dirimu sendiri” [90]
- Kita selamanya : “waktu dalam hitungan teknis matematis kadang-kadang mengkhianati waktu dalam gagasan kesadaran persepsi kita tehadapnya. waktu juga memang sering kali mengkhianati jarak” [111]
- U’ll sorry : “ini cuma soal waktu, suatu saat kamu akan tahu!” [129]
- Ya sudahlah! : “Nggak ada yang bisa ngancurin impian gue. Nggak elu, nggak juga siapapun. Hanya gue yang bisa menghancurkannya. Impian gue tetap ada dan gue tetap bisa mewujudkannya. Sekarang mungkin hanya sedang tertunda – atau barangkali Tuhan tahu kalau sekarang memang belum waktunya buat gue mewujudkannya. Tuhan selalu tahu yang terbaik buat kita” [149]
- Save our soul (SOS) : “Agama adalah soal memberi kemaslahatan bagi semua, menjadi rahmat dan penyebar kasih sayang bagi seluruh semesta" [175]
- Xpresikan : “Cita-cita tak akan menghampiri mereka yang diam saja. Bagi mereka yang diam saja, cita-cita hanya akan terus-menerus berada di angkasa-tak tergapai" [184]
- Hidup berawal dari mimpi : “Kita tak pernah tahu Tuhan punya cara kerja yang berbeda dalam mengeksekusi impian dan harapan-harapan kita” [196]
Chapter
yang saya sukai dalam buku ini pembahasan tentang Sang Juara dan Save Our Soul.
Mungkin sebagian orang atau pembaca ada yang sama bahkan bisa berbeda dalam
menyikapi dan menyukai chapter-chapter dalam buku ini. Contohnya ada beberapa
teman saya yang menyukai chapter Not With Me. ^_^
Pertama,
Sang Juara; mengandung
nilai kesabaran, kekeluargaan, sosial dan proses perjuangan hidup. Pekerjaan
apapun hakikatnya, tidak ada yang nista, jelek dan buruk. Selama orang yang
bekerja dalam jabatannya tersebut jujur dan amanah. Rasa syukur yang dirasakan
oleh setiap insan, tergantung manusia itu sendiri dalam menyikapi dan
mensyukuri nikmat-nikmat dariNya. (Mungkin) untuk orang-orang tertentu Rp.5000
hanya cukup untuk membeli gorengan atau bahkan hanya untuk parkir mobil saja,
tapi bagi sebagian orang 5 ribu rupiah tersebut sangat berharga bagi dia,
keluarga dan masa depannya. Rezeki tersebut tidak dilihat dari seberapa besar
nominal uang tersebut akan tetapi seberapa besar kita mensyukuri rezeki
tersebut. Wallohu a’lam ^_^
Kedua,
Save Our Soul; chapter
meng-analogi-kan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat kita. Kali bokong
merupakan deskripsi dari kondisi (sebagian) lingkungan kita, di mana
dianalogikan ada 2 populasi manusia dan daerah, yang satu miskin dan
tetangganya yang kaya. Bab ini mengulas sampai dengan persepsi ustadz di
lingkungan orang kaya yang menilai orang-orang miskin. Ironis sekali, ketika
ustadz tersebut hanya memahami beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits dalam
menyikapi permasalahan yang ada dalam cerita kali bokong tersebut.
Segmentasi
dan diskriminasi antara si kaya dan si miskin dalam cerita kali bokong, memberikan
sentilan kepada kita untuk berpikir dan beraksi dalam menyikapi permasalahan
ekonomi, strata sosial, bahkan pemahaman agama. Mengapa demikian? Ada beberapa
tokoh agama yang mempunyai cara pandang seperti yang dideskripikan di buku ini.
Menurut saya, cara pandang tokoh agama seperti ini, bukan solusi. Karena solusi
ketika melihat problematika tersebut, bukan dengan men-judge mereka (terutama men-judge
dengan satu sudut pandang saja) saya ambil contoh aspek sosial dan ekonomi.
Salah satu solusi yang saya tawarkan adalah kita bisa (belajar) berbagi dengan
saudara-saudari kita yang kurang mampu. Berbagi tidak harus (selalu) dengan
uang atau materi, kita bisa berbagi dengan pakaian layak pakai, berbagi makanan
atau minuman, bahkan berbagi kabar gembira (tahadus
bini’mah) dan lain-lain.
Untuk
lebih detail tentang pembahasan kali bokong, teman-teman bisa membaca dari hal 163-168.
Pada intinya selain hablumminalloh (hubungan manusia dengan Alloh Swt), kita
juga harus mengelola hablumminannaas (hubungan manusia dengan sesama manusia)
dan hablumminal’alam (hubungan manusia dengan alam). Semoga kita bisa bijaksana
dalam mencari ilmu, memahami ilmu, mengamalkan ilmu, dan bijak dalam setiap
menyikap skenario kehidupan ini. ^_^v
"Jalan hidup kadang-kadang harus kita tempuh
dengan cara yang tidak kita inginkan" [187]
Bandung, 7 April 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar