Jumat, 03 Mei 2013

Hidup Berawal Dari Mimpi



Penulis                                                 : Fahd Djibran, Bondan Prakoso & Fade2black
Penyunting                                          : Enda Astuti
Design Director                                   : Futih Aljihadi
Konsep dan Pengembangan Desain    : Rizqa Abidin (What If Artwork)
Eksekusi Foto Sampul & Lay Out       : Futih Aljihadi
Eksekusi Desain Sampul                      : Zaki Fitria & M. Faizal Fikri
Penerbit                                               : Kurniaesa Publishing
Cetakan                                               : Pertama, Juni 2011
Halaman                                             : 231 hlm
ISBN                                                    : 978-602-99349-1-5


Awal membaca buku ini karena penasaran, kolaborasi lirik lagu Bondan Prakoso & Fade2black menjadi alur cerita oleh Fahd Djibran. Alhasil setiap cerita (yang terdapat lirik lagu tsb) mempunyai makna-makna tersendiri.
Saya mencoba mengutip kalimat-kalimat dalam setiap chapter, semoga bermanfaat bagi saya maupun pembaca. Berikut kutipan-kutipannya :
  •  Kau puisi : “Aku hanya laki-laki biasa, yang menemukan sebagian dirinya dalam dirimu. Bagiku, kaulah yang akan menyempurnakan hidupku” [19]
  •  Sang juara : “hidup selalu indah pada waktunya. dan tuhan tak pernah tertidur untuk melupakan mereka yang percaya pada takdirnya” [31]
  • Not with me : “pejamkan matamu, lalu sebutkan sepuluh nama yang paling kau cintai dalam hidupmu” [42]
  • Bumi ke langit : "setiap kali kita bersalah dan berdosa, sebenarnya kita sedang belajar untuk menjadi lebih baik" [57]
  • Cahya cinta sejati : "Untuk Mereka yang masih berdiri dengan 'cahya cinta sejati' mereka, keluarga tercinta, bersyukurlah, berbahagialah. diluar sana, barangkali ada seseorang yang begitu iri pada hidup yang saat ini sedang kau caci-maki... " [82]
  •  Waktu : “aku tak akan berusaha menjadikan busur bagi dirimu sebab kau bukan anak
  • panah yang mesti kubidikkan ke mana-mana. kaulah lesat bagi gerakmu sendiri, tuan bagi dirimu sendiri” [90]
  • Kita selamanya : “waktu dalam hitungan teknis matematis kadang-kadang mengkhianati waktu dalam gagasan kesadaran persepsi kita tehadapnya. waktu juga memang sering kali mengkhianati jarak” [111]
  • U’ll sorry : “ini cuma soal waktu, suatu saat kamu akan tahu!” [129]
  •  Ya sudahlah! : “Nggak ada yang bisa ngancurin impian gue. Nggak elu, nggak juga siapapun. Hanya gue yang bisa menghancurkannya. Impian gue tetap ada dan gue tetap bisa mewujudkannya. Sekarang mungkin hanya sedang tertunda – atau barangkali Tuhan tahu kalau sekarang memang belum waktunya buat gue mewujudkannya. Tuhan selalu tahu yang terbaik buat kita” [149]
  • Save our soul (SOS) : “Agama adalah soal memberi kemaslahatan bagi semua, menjadi rahmat dan penyebar kasih sayang bagi seluruh semesta" [175]
  • Xpresikan : “Cita-cita tak akan menghampiri mereka yang diam saja. Bagi mereka yang diam saja, cita-cita hanya akan terus-menerus berada di angkasa-tak tergapai" [184]
  • Hidup berawal dari mimpi : “Kita tak pernah tahu Tuhan punya cara kerja yang berbeda dalam mengeksekusi impian dan harapan-harapan kita” [196]

Chapter yang saya sukai dalam buku ini pembahasan tentang Sang Juara dan Save Our Soul. Mungkin sebagian orang atau pembaca ada yang sama bahkan bisa berbeda dalam menyikapi dan menyukai chapter-chapter dalam buku ini. Contohnya ada beberapa teman saya yang menyukai chapter Not With Me. ^_^
Pertama, Sang Juara; mengandung nilai kesabaran, kekeluargaan, sosial dan proses perjuangan hidup. Pekerjaan apapun hakikatnya, tidak ada yang nista, jelek dan buruk. Selama orang yang bekerja dalam jabatannya tersebut jujur dan amanah. Rasa syukur yang dirasakan oleh setiap insan, tergantung manusia itu sendiri dalam menyikapi dan mensyukuri nikmat-nikmat dariNya. (Mungkin) untuk orang-orang tertentu Rp.5000 hanya cukup untuk membeli gorengan atau bahkan hanya untuk parkir mobil saja, tapi bagi sebagian orang 5 ribu rupiah tersebut sangat berharga bagi dia, keluarga dan masa depannya. Rezeki tersebut tidak dilihat dari seberapa besar nominal uang tersebut akan tetapi seberapa besar kita mensyukuri rezeki tersebut. Wallohu a’lam ^_^
Kedua, Save Our Soul; chapter meng-analogi-kan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat kita. Kali bokong merupakan deskripsi dari kondisi (sebagian) lingkungan kita, di mana dianalogikan ada 2 populasi manusia dan daerah, yang satu miskin dan tetangganya yang kaya. Bab ini mengulas sampai dengan persepsi ustadz di lingkungan orang kaya yang menilai orang-orang miskin. Ironis sekali, ketika ustadz tersebut hanya memahami beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits dalam menyikapi permasalahan yang ada dalam cerita kali bokong tersebut.
Segmentasi dan diskriminasi antara si kaya dan si miskin dalam cerita kali bokong, memberikan sentilan kepada kita untuk berpikir dan beraksi dalam menyikapi permasalahan ekonomi, strata sosial, bahkan pemahaman agama. Mengapa demikian? Ada beberapa tokoh agama yang mempunyai cara pandang seperti yang dideskripikan di buku ini. Menurut saya, cara pandang tokoh agama seperti ini, bukan solusi. Karena solusi ketika melihat problematika tersebut, bukan dengan men-judge mereka (terutama men-judge dengan satu sudut pandang saja) saya ambil contoh aspek sosial dan ekonomi. Salah satu solusi yang saya tawarkan adalah kita bisa (belajar) berbagi dengan saudara-saudari kita yang kurang mampu. Berbagi tidak harus (selalu) dengan uang atau materi, kita bisa berbagi dengan pakaian layak pakai, berbagi makanan atau minuman, bahkan berbagi kabar gembira (tahadus bini’mah) dan lain-lain.
Untuk lebih detail tentang pembahasan kali bokong, teman-teman bisa membaca dari hal 163-168. Pada intinya selain hablumminalloh (hubungan manusia dengan Alloh Swt), kita juga harus mengelola hablumminannaas (hubungan manusia dengan sesama manusia) dan hablumminal’alam (hubungan manusia dengan alam). Semoga kita bisa bijaksana dalam mencari ilmu, memahami ilmu, mengamalkan ilmu, dan bijak dalam setiap menyikap skenario kehidupan ini. ^_^v

"Jalan hidup kadang-kadang harus kita tempuh dengan cara yang tidak kita inginkan" [187]



Bandung, 7 April 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar