Penulis : Pandji Pragiwaksono
Penyunting : Nurjannah Intan
Perancang
Sampul : Joko Supomo
Pemeriksa
Aksara : Pritameani
Penata
Aksara : Adfina Fahd
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : kedua, Januari 2013
Halaman : 198 hlm
ISBN : 978-602-8811-96-5
Pada
saat mengikuti Talkshow dan Bedah Buku #BeraniMengubah di Unisba jam 9-11 siang
jumat 8 maret 2013, saya baru setengahnya membaca buku ini. Walaupun belum
terkonsep secara detail, saya memberanikan diri untuk bertanya pada saat acara
tersebut. Alhasil pertanyaan saya sedikit curhat tentang ide yang berkaitan
dengan #BeraniMengubah tersebut. Hehe ^_^V
Walaupun
cenderung curhat tentang ide dalam membersihkan sampah, baik di bandung maupun
dimana pun kita berada, untungnya @pandji bisa mengerti dan nyambung untuk
menjawab pertanyaan saya “Apakah di buku ini, ada sebuah motivasi untuk teman2
dalam mengelola sampah di bandung (khususnya)?”
sumber photo : google
Saya
merekomendasikan buku ini, karena mengandung “senyawa” motivasi untuk sama-sama
dalam mengubah hal yang bersifat “kurang tepat” di dalam kehidupan kita,
lingkungan kita dan bahkan untuk perubahan Indonesia yang lebih baik. Jujur
saja, pada segment “Bersatu bukan jadi satu”
pembahasan atheis sangat menarik bagi saya pribadi. Karena dalam
pembahasan theis, agnostik dan atheis pandji mengundang 2 narasumber dari pihak
yang menganut paham atheis, narasumber tersebut mengungkapkan
pernyataan-pernyataan tentang atheis. Di mana pembahasan atheis tersebut
mengingatkan saat pada saat waktu kuliah berdiskusi dengan teman kuliah yang
ngambil jurusan Aqidah Filsafat di IAIN (Sekarang UIN) Sunan Gunung Djati
Bandung.
“Diskusi saya dengan teman-teman atheis tadi
adalah cara saya belajar untuk bisa menerima tekanan dengan tenang dan menjawab
tanpa harus emosi” (#BeraniMengubah : 142)
Statement pandji tersebut setelah dia ditanya oleh 2 narasumber penganut atheis tentang
agama, dan khususnya tentang Islam. Saya suka dengan paparan pandji dalam
setiap pertanyaan yang diajukan oleh narasumber yang bertanya balik kepada pandji. pandji menjawab setiap pertanyaan dengan menggunakan logika dan analogi kepada
2 narasumber tersebut, (karena yg saya alami sama dengan pandji) untuk ngobrol
dengan yg menganut atheis kita harus menggunakan logika karena mereka tidak
mempercayai Tuhan, apalagi kitab sucinya. Yang dipaparkan pandji baru dengan
logika tapi sudah mewakili, apalagi (misalkan) ada obrolan lagi tentang hal
tersebut ditunjang dengan ilmu seperti Tauhid, Mantiq, dll.
Setelah
baca buku ini keseluruhan, saya jadi teringat buku “Pluraritas dalam Masyarakat
Islam karya Gamal Al-Banna” yang belum beres saya baca (pada saat review ini
saya buat). Hehe... Untuk menambah pengetahuan kembali tentang pluralisme, saya
(berusaha) membaca kembali buku “Pluralisme karya ” tersebut. ^_^
Bagi
yang #BeraniMengubah dan #BeraniMenambah wawasan tentang Pluralisme di
Indonesia, buku ini recommended untuk
Indonesia yang lebih baik dengan keanekaragaman suku, agama, dan ras. Buku ini
sangat menunjang untuk kita, yang sedang dan (mau) belajar menghargai dan
menghormati perbedaan. Karena dengan buku ini kita bisa menambah wawasan
tentang toleransi beragama, perbedaan pendapat, pluralisme yang ada di
Indonesia ini. Selain pemaparan setiap segmentnya, ada kesimpulan “Aksi
Perubahan” dalam setiap akhir pembahasan yang ditawarkan pandji. Semoga
Bermanfaat. ^_^
“Kita harus masih belajar berdamai dengan
perbedaan”
“Bersatu, bukan jadi satu”
Kesadaran
adalah matahari
Kesabaran
adalah bumi
Keberanian
menjadi cakrawala
Dan
perjuangan
Adalah
pelaksanaan kata-kata
Selamat
berjuang!
-W.S
Rendra-
Bandung, 12 Maret 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar