Jumat, 19 April 2013

Berani Mengubah



Penulis                         : Pandji  Pragiwaksono
Penyunting                  : Nurjannah Intan
Perancang Sampul      : Joko Supomo
Pemeriksa Aksara        : Pritameani
Penata Aksara             : Adfina Fahd
Penerbit                       : Bentang Pustaka
Cetakan                       : kedua, Januari 2013
Halaman                     : 198 hlm
ISBN                            : 978-602-8811-96-5

Pada saat mengikuti Talkshow dan Bedah Buku #BeraniMengubah di Unisba jam 9-11 siang jumat 8 maret 2013, saya baru setengahnya membaca buku ini. Walaupun belum terkonsep secara detail, saya memberanikan diri untuk bertanya pada saat acara tersebut. Alhasil pertanyaan saya sedikit curhat tentang ide yang berkaitan dengan #BeraniMengubah tersebut. Hehe ^_^V
Walaupun cenderung curhat tentang ide dalam membersihkan sampah, baik di bandung maupun dimana pun kita berada, untungnya @pandji bisa mengerti dan nyambung untuk menjawab pertanyaan saya “Apakah di buku ini, ada sebuah motivasi untuk teman2 dalam mengelola sampah di bandung (khususnya)?” 
                                                           sumber photo : google

Saya merekomendasikan buku ini, karena mengandung “senyawa” motivasi untuk sama-sama dalam mengubah hal yang bersifat “kurang tepat” di dalam kehidupan kita, lingkungan kita dan bahkan untuk perubahan Indonesia yang lebih baik. Jujur saja, pada segment “Bersatu bukan jadi satu”  pembahasan atheis sangat menarik bagi saya pribadi. Karena dalam pembahasan theis, agnostik dan atheis pandji mengundang 2 narasumber dari pihak yang menganut paham atheis, narasumber tersebut mengungkapkan pernyataan-pernyataan tentang atheis. Di mana pembahasan atheis tersebut mengingatkan saat pada saat waktu kuliah berdiskusi dengan teman kuliah yang ngambil jurusan Aqidah Filsafat di IAIN (Sekarang UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. 
Diskusi saya dengan teman-teman atheis tadi adalah cara saya belajar untuk bisa menerima tekanan dengan tenang dan menjawab tanpa harus emosi” (#BeraniMengubah : 142)

Statement pandji tersebut setelah dia ditanya oleh 2 narasumber penganut atheis tentang agama, dan khususnya tentang Islam. Saya suka dengan paparan pandji dalam setiap pertanyaan yang diajukan oleh narasumber yang bertanya balik kepada pandji. pandji menjawab setiap pertanyaan dengan menggunakan logika dan analogi kepada 2 narasumber tersebut, (karena yg saya alami sama dengan pandji) untuk ngobrol dengan yg menganut atheis kita harus menggunakan logika karena mereka tidak mempercayai Tuhan, apalagi kitab sucinya. Yang dipaparkan pandji baru dengan logika tapi sudah mewakili, apalagi (misalkan) ada obrolan lagi tentang hal tersebut ditunjang dengan ilmu seperti Tauhid, Mantiq, dll.

Setelah baca buku ini keseluruhan, saya jadi teringat buku “Pluraritas dalam Masyarakat Islam karya Gamal Al-Banna” yang belum beres saya baca (pada saat review ini saya buat). Hehe... Untuk menambah pengetahuan kembali tentang pluralisme, saya (berusaha) membaca kembali buku “Pluralisme karya ” tersebut. ^_^
Bagi yang #BeraniMengubah dan #BeraniMenambah wawasan tentang Pluralisme di Indonesia, buku ini recommended untuk Indonesia yang lebih baik dengan keanekaragaman suku, agama, dan ras. Buku ini sangat menunjang untuk kita, yang sedang dan (mau) belajar menghargai dan menghormati perbedaan. Karena dengan buku ini kita bisa menambah wawasan tentang toleransi beragama, perbedaan pendapat, pluralisme yang ada di Indonesia ini. Selain pemaparan setiap segmentnya, ada kesimpulan “Aksi Perubahan” dalam setiap akhir pembahasan yang ditawarkan pandji. Semoga Bermanfaat. ^_^

Kita harus masih belajar berdamai dengan perbedaan
Bersatu, bukan jadi satu

Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan
Adalah pelaksanaan kata-kata

Selamat berjuang!
-W.S Rendra-

                                                                                               Bandung, 12 Maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar